Ringkasan Berita:
- AS resmi blokade Selat Hormuz, picu ketegangan global
- China tegaskan kapal mereka tetap akan melintas berkat kesepakatan dengan Iran
- Harga minyak dunia meroket mendekati USD 100 per barel
JatiNetwork.Com – Ketegangan geopolitik global semakin memanas setelah Amerika Serikat resmi memberlakukan blokade di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Langkah ini langsung mendapat respons keras dari China. Menteri Pertahanan China, Dong Jun, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada kebijakan tersebut dan tetap akan melintasi jalur strategis tersebut.
“Kapal kami bergerak keluar masuk Selat Hormuz. Kami memiliki perjanjian perdagangan dan energi dengan Iran. Kami akan menghormatinya dan tidak ingin ada pihak yang mencampuri urusan kami,” tegas Dong Jun.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa China siap menantang dominasi Amerika Serikat di salah satu titik paling sensitif dalam peta energi global.
Sebagaimana diketahui, Iran selama ini memiliki kontrol strategis atas Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Dengan adanya kesepakatan antara China dan Iran, Beijing menegaskan bahwa jalur tersebut tetap “terbuka” bagi kepentingan mereka.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan blokade dengan tujuan menekan Iran. Washington menyatakan tidak akan mengizinkan kapal yang memiliki kesepakatan dengan Iran untuk melintas secara bebas.
Blokade ini muncul setelah upaya diplomasi antara kedua negara gagal mencapai kesepakatan damai. Negosiasi yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance tidak membuahkan hasil, sehingga konflik justru semakin melebar.
Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah Brent dan WTI melonjak tajam, mendekati angka 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran inflasi baru di berbagai negara.
Sejumlah pengamat menilai, eskalasi ini bukan sekadar konflik regional, melainkan berpotensi menjadi benturan kepentingan antara kekuatan besar dunia.
Jika situasi terus memburuk, Selat Hormuz bisa berubah dari jalur perdagangan energi menjadi titik panas konflik global yang berisiko mengguncang stabilitas ekonomi dunia.***









