Blokade AS di Selat Hormuz! Ekonomi Iran Terancam, Dunia Ikut Deg-degan

Para pembeli berjalan melewati Grand Bazaar di Teheran, Iran, selama perang [File: Thaier Al Sudani/Reuters]

Ringkasan Berita:

  • AS resmi blokade Iran, ekspor minyak yang jadi tulang punggung ekonomi terancam
  • Iran sebelumnya raup hampir Rp80 triliun dari minyak dalam sebulan terakhir
  • Dampak global besar, karena 20% pasokan energi dunia lewat Selat Hormuz

JatiNetwork.Com – Ketegangan geopolitik global kembali memanas setelah Amerika Serikat resmi memberlakukan blokade terhadap Iran, termasuk jalur vital Selat Hormuz yang menjadi nadi perdagangan energi dunia.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran di tengah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Blokade yang mulai berlaku pada Senin tersebut langsung memicu kekhawatiran besar, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melintasi Selat Hormuz dalam kondisi normal.

Bagi Iran, dampaknya bisa sangat signifikan. Selama sebulan terakhir, negara tersebut justru mencatat lonjakan pendapatan dari sektor minyak.

Data menunjukkan, Iran mengekspor sekitar 55,22 juta barel minyak dalam periode pertengahan Maret hingga pertengahan April 2026, dengan harga rata-rata minimal 90 dolar AS per barel.

Artinya, Teheran berhasil mengantongi hampir 5 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp80 triliun—naik sekitar 40 persen dibanding sebelum perang dimulai.

Namun, dengan adanya blokade dari militer AS, kemampuan Iran untuk mengekspor minyak diperkirakan akan terpukul keras.

Para analis menilai, bukan hanya volume ekspor yang turun, tetapi juga potensi pendapatan tambahan seperti biaya lintasan kapal asing yang sebelumnya diizinkan melintas.

Selain sektor energi, blokade ini juga berpotensi mengganggu perdagangan komoditas lain seperti petrokimia, produk pertanian, hingga impor barang penting seperti mesin industri dan pangan.

Kondisi ini bisa memperparah tekanan ekonomi domestik Iran yang sebelumnya sudah terpukul oleh sanksi internasional.

Meski demikian, Iran tidak sepenuhnya tanpa opsi. Salah satu alternatif yang mulai dikembangkan adalah jalur darat melalui kerja sama dengan China, menggunakan jaringan kereta api lintas Asia Tengah.

Namun, opsi ini dinilai memiliki keterbatasan besar, terutama untuk distribusi minyak dalam skala besar.

Di sisi lain, faktor China menjadi variabel penting. Sebagian besar ekspor minyak Iran saat ini diketahui menuju negara tersebut, sehingga sikap Beijing akan sangat menentukan arah konflik ke depan.

Situasi ini dinilai sangat dinamis dan berisiko tinggi. Jika tidak segera mereda, bukan hanya Iran yang terdampak, tetapi juga stabilitas ekonomi global, termasuk lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok dunia.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING