Ringkasan Berita:
- Trump unggah foto AI menyerupai Yesus, langsung menuai kritik global
- Unggahan dihapus kurang dari 24 jam setelah dianggap tidak pantas
- Trump berdalih gambar tersebut adalah dirinya sebagai “dokter”, bukan figur religius
JatiNetwork.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai kontroversi setelah mengunggah foto hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya menyerupai Yesus Kristus.
Unggahan tersebut diposting di platform Truth Social pada Minggu (12/4/2026), namun langsung memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan, termasuk publik, aktivis, hingga pendukungnya sendiri.
Dalam gambar tersebut, Trump digambarkan mengenakan jubah putih dengan cahaya di tangannya, seolah sedang melakukan penyembuhan terhadap seseorang—visual yang sangat identik dengan ikonografi Yesus dalam tradisi Kristen.
Reaksi keras pun bermunculan. Banyak pihak menilai unggahan tersebut sebagai tindakan yang tidak pantas, bahkan dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap simbol keagamaan.
Sejumlah tokoh publik di Amerika Serikat secara terbuka meminta Trump untuk segera menghapus gambar tersebut dan menyampaikan permintaan maaf.
Tekanan publik akhirnya berbuah hasil. Dalam waktu kurang dari satu hari, unggahan tersebut dihapus dari akun resminya.
Namun, alih-alih meminta maaf, Trump justru memberikan klarifikasi yang berbeda. Ia menyatakan bahwa gambar tersebut bukan dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai Yesus.
“Saya kira itu adalah saya sebagai seorang dokter… membuat orang menjadi lebih baik,” ujarnya kepada wartawan.
Pernyataan tersebut justru menambah polemik, karena banyak pihak menilai visual dalam gambar tersebut jelas merujuk pada simbol religius, bukan profesi medis.
Kontroversi ini juga terjadi di tengah memanasnya hubungan Trump dengan Paus Leo XIV, yang sebelumnya mengkritik kebijakan perang Amerika Serikat terhadap Iran.
Sejumlah pengamat menilai, kasus ini mencerminkan semakin tipisnya batas antara politik, teknologi, dan simbol keagamaan di era digital—di mana satu unggahan dapat memicu reaksi global dalam hitungan jam.
Jika tidak dikelola dengan bijak, penggunaan AI dalam komunikasi politik berpotensi menjadi bumerang, terutama ketika menyentuh isu sensitif seperti agama.***







