Hasil Bisa 2 Kali Lipat! Demplot Padi Tabela di Sumedang Disiapkan Jadi Laboratorium Pertanian Masa Depan

Bupati Sumedang meninjau demplot padi Tabela di Rancakalong sebagai model pertanian masa depan.

Ringkasan:

  • Demplot padi Tabela jadi model laboratorium pertanian di Sumedang
  • Gunakan varietas unggul Inpari 32 dengan potensi hasil tinggi
  • Efisiensi budidaya dan peningkatan produktivitas jadi fokus utama

JatiNetwork.Com – Kabupaten Sumedang terus mendorong transformasi sektor pertanian melalui pendekatan berbasis inovasi dan teknologi.

Salah satu langkah strategis diwujudkan melalui pengembangan demplot padi tanam benih langsung atau Tabela.

Demplot tersebut berada di areal persawahan Panyindangan Girang, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengapresiasi kolaborasi HKTI Sumedang dan Balitbang Ketahanan Pangan Mandiri dalam program tersebut.

Ia menyebut demplot ini sebagai bagian dari pembangunan laboratorium pertanian berbasis lapangan.

“Kami sedang membangun model pertanian yang bisa menjadi rujukan ke depan,” ujar Dony.

Menurutnya, langkah ini bertujuan menjawab persoalan mendasar di sektor pertanian.

Salah satu tantangan utama adalah rendahnya kesejahteraan petani akibat tata kelola yang belum optimal.

Selain itu, pengendalian hama yang belum tuntas juga menjadi perhatian serius pemerintah.

Dalam demplot tersebut, digunakan varietas unggul Inpari 32 dari Balai Benih Sukamandi.

Varietas ini memiliki masa tanam sekitar 110 hingga 120 hari dengan potensi hasil yang tinggi.

Lahan yang digunakan untuk demplot tersebut memiliki luas sekitar 170 bata.

Bupati menjelaskan, penggunaan benih unggul menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Metode Tabela sendiri berbeda dengan sistem konvensional yang menggunakan pindah tanam.

Melalui metode ini, benih ditanam langsung sehingga proses budidaya menjadi lebih cepat dan efisien.

Penggunaan pupuk dan pestisida juga menjadi lebih terukur dalam sistem ini.

Berdasarkan analisis Dinas Pertanian, biaya produksi metode Tabela mencapai sekitar Rp18,8 juta per hektare.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan metode konvensional yang berada di kisaran Rp11,5 juta per hektare.

Namun, peningkatan biaya tersebut sebanding dengan potensi hasil panen yang lebih tinggi.

Produksi padi diperkirakan dapat mencapai hingga 16 ton per hektare.

“Jika produktivitas meningkat signifikan, maka ini sangat layak untuk dikembangkan,” tegas Dony.

Ia menilai pendekatan pertanian harus dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari sisi biaya.

Menurutnya, nilai akhir dan keuntungan petani menjadi indikator utama keberhasilan program.

Bupati berharap metode ini mampu meningkatkan hasil panen dari sisi kuantitas dan kualitas.

Selain itu, efisiensi waktu tanam dan panen juga menjadi keunggulan yang diharapkan.

Namun, ia mengakui perubahan pola pikir petani menjadi tantangan tersendiri.

“Ini bukan hal mudah, tetapi harus kita lakukan bersama-sama,” pungkasnya.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING