Oleh: Rauf Nuryama
Ringkasan 3 Poin
- Kemudahan yang mengiringi pemakaman kedua orang tua Rauf Nuryama membawanya pada perenungan tentang buah dari amal kebaikan yang ditanam puluhan tahun sebelumnya.
- Saat merantau di Bandung, ia menggagas Dana Kematian Rp2.500 per bulan untuk membantu warga mengurus jenazah secara gotong royong.
- Dari pengalaman itu, ia meyakini bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan kembali kepada pemiliknya pada waktu yang telah ditentukan Allah SWT.
JatiNetwork.Com – Setelah seluruh prosesi pemakaman Mimih selesai, saya duduk cukup lama di sudut rumah duka. Pikiran saya terus berputar, mencoba memahami begitu banyak kemudahan yang Allah SWT berikan kepada kedua orang tua saya ketika berpulang.
Saat Abah wafat pada 2016, ratusan orang datang membantu.
Ketika Mimih berpulang pada 2026, pemandangan yang sama kembali terulang.
Semuanya terasa begitu mudah.
Begitu teratur. Begitu dimuliakan. Saya pun bertanya dalam hati.
Amalan apa yang sebenarnya telah Allah balas melalui semua kemudahan itu?
Semakin lama saya merenung, semakin saya menyadari bahwa semua ini bukanlah kebetulan.
Allah SWT tidak pernah menurunkan kemuliaan secara tiba-tiba.
Semua memiliki sebab.
Semua berawal dari benih-benih kebaikan yang pernah ditanam jauh sebelumnya.
Bukan hanya oleh kedua orang tua saya, tetapi mungkin juga oleh anak-anaknya yang pernah belajar berbuat ikhlas di tanah rantau.
Ingatan saya kemudian kembali ke Kota Bandung.
Sekitar tahun 2001 hingga 2009, saya menjalani kehidupan sebagai seorang perantau.
Di lingkungan tempat saya tinggal saat itu, warga memberikan kepercayaan yang begitu besar.
Dalam waktu bersamaan saya dipercaya menjadi Sekretaris RW, Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), sekaligus Sekretaris Unit Pengumpul Zakat (UPZ).
Dari posisi itulah saya melihat kenyataan yang membuat hati saya terusik.
Banyak keluarga sederhana yang justru mengalami kesulitan paling berat ketika salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia.
Biaya pemulasaraan jenazah, kain kafan, administrasi, hingga pemakaman sering kali menjadi beban yang tidak ringan.
Saya kemudian mengusulkan sebuah program sederhana, merumuskan kebijakan itu dan membawanya kehadapan seluruh pengurus untuk mendapatkan persetujuan.
Setiap kepala keluarga cukup menyisihkan Rp2.500 setiap bulan sebagai Dana Kematian.
Nilainya sangat kecil.
Namun jika dikumpulkan bersama, dana itu mampu menjadi penyangga bagi seluruh warga.
Sebagai timbal baliknya, pengurus memberikan jaminan penuh.
Apabila ada warga yang meninggal dunia, seluruh proses pemulasaraan, mulai dari memandikan, mengafani, menyalatkan hingga pemakaman akan diurus bersama tanpa membebani keluarga yang ditinggalkan.
Agar program berjalan baik, setiap unsur memiliki tugas yang jelas.
Pengurus DKM menangani seluruh proses syariat pemulasaraan jenazah.
Pengurus RW mengurus administrasi pemerintahan.
Sementara UPZ menjaga keberlangsungan dana agar selalu siap digunakan kapan pun musibah datang.
Bagi saya, semua itu bukan sekadar program organisasi.
Saya ikut turun langsung. Saya ikut memandikan jenazah. Saya ikut membungkus kain kafan. Saya ikut mengantar warga hingga ke liang lahat.
Di sela-sela setiap prosesi itulah saya selalu memanjatkan doa yang sama.
Doa yang mungkin terdengar sangat sederhana.
“Ya Allah… hari ini saya mengurus jenazah orang lain di tanah rantau dengan ikhlas. Jika suatu hari nanti Ayah saya, Ibu saya, atau saudara-saudara saya dipanggil pulang, kirimkanlah orang-orang saleh yang akan mengurus mereka dengan cara terbaik.”
Saya tidak pernah menceritakan doa itu kepada siapa pun.
Saya hanya menyimpannya di dalam hati.
Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun berganti. Saya bahkan nyaris melupakannya.
Namun rupanya Allah SWT tidak pernah lupa.
Doa yang saya panjatkan di antara aroma kapur barus dan tanah makam warga itu ternyata disimpan dengan sangat rapi.
Puluhan tahun kemudian, doa itu kembali kepada saya dalam bentuk yang tidak pernah saya bayangkan.
Ketika Abah wafat.
Dan kembali ketika Mimih berpulang.
Ratusan orang datang tanpa diminta. Mereka berebut membantu. Mereka memandikan. Mereka menyalatkan. Mereka mengantar hingga ke pemakaman. Bahkan baik saat Abah Meninggal maupun Mimih meninggal, Bupati pada zamannya hadir melayat dan memberikan karangan bunga. Sesuatu yang sangat istimewa, bagi kamu orang kampung.
Saat itulah saya merasa Allah sedang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar hilang.
Ingatan saya kembali melayang pada malam 7 Januari 2016.
Malam ketika Abah berpulang.
Saat itu Abah dirawat di ruang Paviliun VIP RSUD Sumedang. Enam dokter spesialis mengelilingi tempat tidurnya. Suara alat-alat medis memenuhi ruangan.
Naluri saya mengatakan bahwa waktu itu telah tiba.
Ketika azan Magrib berkumandang dari masjid rumah sakit, saya memegang kaki Abah yang mulai terasa dingin.
Kemudian saya keluar mengambil air wudu. Di teras lantai dua rumah sakit saya menggelar sajadah.
Saya menunaikan salat Magrib.
Usai salam, saya mengangkat kedua tangan. Saya tidak meminta keajaiban agar Abah tetap hidup.
Saya hanya berdoa,
“Ya Allah… jika malam ini memang Engkau memanggil Abah pulang, lapangkan hati kami semua. Ikhlaskan hati anak-anaknya dan ikhlaskan hati Mimih sebagai istrinya.”
Saya mengakhiri doa dengan bacaan Al-Fatihah.
Tepat ketika bibir saya mengucapkan, “Aamiin…”
Dari dalam ruangan terdengar suara panjang monitor jantung.
“Niiiiittttt….”
Garis pada monitor berubah lurus.
Abah telah berpulang.
Seolah beliau menahan nafas terakhir, menunggu anak bungsunya selesai berdoa sebelum mengembuskan napas terakhir.
Malam itu Allah kembali memperlihatkan kemudahan.
Seluruh anak-anak Abah berhasil berkumpul dalam waktu singkat.
Hanya satu keluarga yang tidak sempat hadir karena sedang menunaikan ibadah umrah di Madinah.
Namun ternyata Allah telah menyiapkan cara lain.
Pada waktu yang hampir bersamaan dengan berpulangnya Abah, nama beliau sedang disebut dalam doa rombongan jemaah di depan Raudhah, Masjid Nabawi.
Peristiwa itu semakin menguatkan keyakinan saya.
Allah SWT selalu memiliki cara yang jauh lebih indah daripada yang mampu kita rencanakan.
Dari seluruh perjalanan ini saya belajar satu hal.
Kebaikan tidak pernah sia-sia.
Ia mungkin tidak langsung kembali hari ini.
Bahkan bisa jadi baru kembali puluhan tahun kemudian.
Namun ketika waktunya tiba, Allah SWT akan mengembalikannya dengan cara yang jauh lebih indah daripada yang pernah kita bayangkan.
Karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik.
Teruslah membantu. Teruslah meringankan beban orang lain.
Sebab setiap kebaikan sejatinya adalah investasi yang sedang kita titipkan kepada langit.
Dan ketika masa jatuh temponya tiba, Allah SWT akan membayarnya dengan cara yang paling sempurna.
Berinvestasilah pada kebaikan, karena itu adalah satu-satunya mata uang yang laku di bumi maupun di langit.***











