Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

Pesan dari Tanah Merah: Ketika Rindu Tak Lagi Bisa Pulang kepada Ibu

Seorang pria berdoa di samping makam orang tuanya di bawah cahaya pagi yang tenang sebagai simbol bakti dan kerinduan.
Seorang anak berdiri khusyuk di samping makam kedua orang tuanya sebagai simbol bakti, kerinduan, dan doa yang tidak pernah terputus oleh kematian. Karya AI

Ringkasan :

  • Artikel penutup serial ini merangkum perjalanan batin seorang anak selama 66 hari merawat ibunya hingga mengantarkannya ke liang lahat.
  • Penulis mengajak pembaca memahami bahwa kehilangan terbesar bukanlah jarak, melainkan kepergian yang tidak akan pernah kembali.
  • Kisah ini menjadi pengingat agar memuliakan orang tua selagi kesempatan itu masih ada.

JatiNetwork.Com – Sebelas tulisan yang tersusun dalam serial ini akhirnya sampai pada penghujung perjalanan. Jika sepuluh tulisan sebelumnya merekam setiap jejak perjuangan merawat seorang ibu hingga mengantarkannya menuju peristirahatan terakhir, maka tulisan penutup ini bukan lagi tentang peristiwa, melainkan tentang makna yang lahir dari seluruh perjalanan tersebut.

Selama 66 hari merawat Mimih, kehidupan penulis berubah sepenuhnya. Seluruh jabatan, rutinitas pekerjaan, hingga berbagai aktivitas organisasi ditinggalkan demi satu tujuan yang dianggap paling mulia, yakni menemani seorang ibu menjalani masa-masa terakhir kehidupannya.

Kini, setelah seluruh perjalanan itu usai, penulis tidak lagi berbicara sebagai seorang mantan direktur atau pelaku usaha. Ia memilih kembali menjadi sosok yang paling sederhana, yaitu si Ujang, anak bungsu yang pernah menggenggam tangan ibunya hingga napas terakhir.

Dari pengalaman itulah lahir sebuah kesadaran yang begitu kuat. Selama ini banyak orang mengira bahwa ujian terbesar hubungan antara anak dan orang tua adalah jarak, kesibukan, atau waktu yang sulit dipertemukan.

Padahal, setelah melewati malam ketika Mimih berpulang, penulis memahami bahwa hakikat rindu memiliki makna yang jauh berbeda.

“Bukan kebersamaan yang membuat hati ini didera oleh rindu yang hebat, melainkan sebuah kepergian yang tidak akan pernah kembali lagi.”

Selama orang tua masih hidup, sejauh apa pun jarak yang memisahkan, selalu ada kesempatan untuk pulang. Selalu ada peluang untuk menelepon, memeluk, berbincang, atau sekadar mendengar suara mereka. Kerinduan masih memiliki jalan untuk ditunaikan.

Namun ketika takdir telah menutup usia seseorang, semua kemungkinan itu berhenti untuk selamanya. Kamar yang dahulu penuh kehidupan berubah sunyi. Nomor telepon yang dulu mudah dihubungi kini hanya menjadi deretan angka yang tak lagi menjawab. Rumah tetap berdiri, tetapi salah satu cahaya di dalamnya telah padam.

Bagi penulis, rindu kepada kedua orang tua kini hanya dapat disampaikan melalui doa-doa yang terus dipanjatkan. Sebuah kerinduan yang tidak lagi mencari jawaban di dunia, tetapi dititipkan kepada Allah SWT melalui setiap untaian doa.

Karena itulah, melalui tulisan ini, penulis ingin menitipkan pesan kepada siapa pun yang masih memiliki ayah ataupun ibu.

Selama “surga” itu masih berada di dalam rumah, selama suara mereka masih memanggil nama kita, dan selama tangan mereka masih bisa digenggam, jangan pernah merasa terbebani untuk melayani mereka.

Jangan pernah menghitung apa yang hilang dari sisi karier, jabatan, ataupun materi ketika memilih mengutamakan orang tua. Semua itu hanyalah titipan dunia yang suatu saat akan selesai pada waktunya.

Sebaliknya, kesempatan menemani orang tua pada masa senjanya adalah anugerah yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun. Ketika mereka telah pergi, seluruh kekayaan, kekuasaan, ataupun keberhasilan dunia tidak akan mampu membeli kembali satu menit kebersamaan yang telah hilang.

Bahkan, sepiring nasi sederhana yang pernah disuapkan kepada seorang ibu di tengah sepertiga malam akan menjadi kenangan yang nilainya jauh melampaui seluruh kemewahan dunia.

Serial sebelas tulisan ini memang telah berakhir. Namun, pesan yang ingin ditinggalkannya tidak pernah benar-benar selesai. Bakti kepada orang tua tidak mengenal batas waktu, karena doa kepada mereka akan terus mengalir, bahkan ketika raga telah kembali menyatu dengan tanah.

Selamat jalan, Abah.

Selamat jalan, Mimih.

Semoga Allah SWT melapangkan alam kubur, menerima seluruh amal ibadah, serta mempertemukan kembali keluarga ini dalam jannah-Nya yang penuh kasih sayang.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING