Oleh: Rauf Nuryama
Setelah 66 hari mendampingi sang ibu, Rauf Nuryama harus menerima kenyataan bahwa
- Mimih berpulang dengan tenang pada pukul 02.30 WIB.
- Di tengah duka, ia memimpin seluruh persiapan pemulangan jenazah dari Sumedang menuju rumah duka di Jatinunggal.
- Fajar di Jatinunggal menjadi saksi kepulangan Mimih, sekaligus mengakhiri pengabdian seorang anak bungsu yang selama berbulan-bulan setia mendampinginya.
JatiNetwork.Com – Ada keheningan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata ketika seseorang yang selama ini menjadi pusat kehidupan kita tiba-tiba berhenti bernapas. Keheningan itu tidak hanya memenuhi ruangan, tetapi juga memenuhi seluruh ruang batin.
Pukul 02.30 WIB, saya berdiri di samping tempat tidur Mimih.
Tangan beliau sudah mulai dingin.
Denyut nadi yang selama 66 hari saya jaga dengan penuh kecemasan telah berhenti.
Malam itu, dunia saya mendadak sunyi.
Selama dua bulan lebih, seluruh hidup saya hanya berpusat pada satu hal, memastikan Mimih tetap bernapas dengan tenang. Ketika napas itu benar-benar berhenti, saya merasakan kekosongan yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Namun saya tidak memiliki banyak waktu untuk larut dalam kesedihan.
Sebagai anak bungsu yang selama ini dipanggil Ujang, malam itu saya harus berdiri paling depan mengurus seluruh proses kepulangan Mimih.
Air mata harus ditahan.
Masih banyak tugas yang harus diselesaikan.
Kebetulan, di lingkungan tempat tinggal saya di Kota Sumedang, saya dipercaya menjadi Ketua Paguyuban warga. Mungkin karena itu, begitu kabar duka menyebar, para pengurus lingkungan berdatangan tanpa perlu diminta.
Ketua DKM, Wakil Ketua Paguyuban, Bendahara RT, dan para tetangga memenuhi rumah kami.
Mereka datang membawa doa, tenaga, sekaligus ketulusan.
Di tengah suasana duka itu, kami segera membagi tugas.
Saya meminta Ketua DKM membantu mencari ambulans.
Pengurus lainnya bergerak menyiapkan kain kafan serta seluruh kebutuhan pemulasaraan jenazah.
Rencana kami sudah bulat.
Mimih harus dibawa pulang ke rumah duka di Jatinunggal agar seluruh prosesi pemulasaraan hingga pemakaman dilaksanakan di kampung halamannya.
Sambil menunggu persiapan selesai, saya menghubungi kakak-kakak dan keluarga di Bandung.
Satu per satu telepon saya lakukan.
Mengabarkan berita yang paling berat untuk disampaikan.
Di tengah kesibukan itu, telepon saya kembali berdering.
Kali ini panggilan video datang dari putri saya yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Di layar telepon, saya melihat wajahnya masih mengenakan mukena.
Air matanya mengalir.
Namun justru dari bibirnya keluar kalimat yang menguatkan saya.
“Ayah… yang sabar ya. Ayah harus kuat.”
Saya hanya mampu mengangguk.
Beberapa saat kemudian ia berkata,
“Ayah, Ayang mau pulang sekarang juga naik kereta paling pagi.”
Sebagai seorang ayah, saya memahami keinginannya.
Namun sebagai anak yang sedang mengurus pemakaman ibunya, saya juga tahu bahwa jenazah tidak boleh terlalu lama menunggu.
Dengan berat hati saya meminta putri saya tetap berada di Yogyakarta.
“Doakan Mimih dari sana ya, Nak. Itu sudah lebih dari cukup.”
Ia mengangguk pelan.
Doanya menjadi kekuatan yang saya bawa sepanjang malam.
Sekitar pukul 03.15 WIB, istri saya bersama keluarga berangkat lebih dahulu menuju Jatinunggal menggunakan mobil pribadi yang dikemudikan oleh Wakil Ketua Paguyuban.
Tugas mereka adalah menyiapkan rumah duka.
Sementara saya tetap menunggu ambulans yang akan membawa Mimih.
Tak lama kemudian ambulans tiba.
Setelah seluruh proses administrasi selesai, kami pun berangkat.
Saya duduk di dalam ambulans, tepat di samping keranda Mimih.
Sepanjang perjalanan menuju Jatinunggal, saya nyaris tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sesekali saya hanya memandangi wajah beliau yang telah tertutup kain.
Ketika ambulans mulai mendekati kampung halaman, saya segera menelepon Bi Dede.
“De… ambulans sudah dekat. Tolong kosongkan ruang utama rumah. Hamparkan karpet. Sebentar lagi Mimih pulang. Pintu dobrak saja pakai linggis, karena kuncinya masih di Teteh (istri saya).”
Pukul 04.05 WIB, ambulans akhirnya memasuki halaman rumah.
Pada detik yang hampir bersamaan, suara azan Subuh menggema dari masjid-masjid di sekitar kampung.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara itu terdengar begitu indah.
Seolah menyambut kepulangan seorang ibu menuju rumah terakhirnya.
Sebelum pintu ambulans dibuka, saya berjalan menuju rumah Paman dan Bibi, adik-adik kandung Mimih, yang letaknya berdampingan dengan rumah orang tua.
Saya mengetuk pintu perlahan.
“Assalamu’alaikum…”
Pintu terbuka.
Mereka menatap saya dengan wajah penuh tanda tanya.
Dengan napas yang terasa berat, saya mengucapkan kalimat yang paling sulit sepanjang hidup.
“Mang, Bi… Mimih sudah enggak ada.”
Tidak ada banyak kata setelah itu.
Bibi langsung memeluk saya erat.
Pelukan itu meruntuhkan seluruh benteng yang sejak pukul 02.30 saya bangun untuk tetap terlihat kuat.
Tangis saya akhirnya pecah.
Saya menangis seperti seorang anak kecil yang baru kehilangan tempat pulang.
Namun saya sadar, masih ada tugas yang harus saya selesaikan.
Saya perlahan melepaskan pelukan itu, mengusap air mata, lalu berjalan menuju rumah duka.
Di sana, Mimih telah kembali ke tanah kelahirannya.
Beliau pulang pada waktu yang begitu mulia, diiringi azan Subuh yang berkumandang di langit Jatinunggal.
Perjalanan seorang anak mengantarkan ibunya hingga kembali ke rumah telah selesai.
Namun saya belum mengetahui bahwa Allah SWT masih menyiapkan pelajaran yang jauh lebih besar.
Sebuah peristiwa yang akan terjadi di pemakaman beberapa jam kemudian, dan selamanya mengubah cara saya memandang kematian, bakti, serta kasih sayang seorang ibu.***
(Bersambung)






