Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

Misteri Raga yang Berat dan Nasi Tahu Sepertiga Malam

Seorang anak menyuapi ibunya dengan nasi dan tahu pada dini hari saat menjalani perawatan di rumah.
Ilsutrasi: Rauf Nuryama menyuapi ibunya pada dini hari tanpa mengetahui bahwa itu akan menjadi pelayanan terakhir sebelum sang ibu berpulang dengan tenang di sepertiga malam.

Oleh: Rauf Nuryama

Ringkasan 3 Poin

  • Selama merawat sang ibu, Rauf Nuryama mengalami berbagai peristiwa yang sulit dijelaskan dengan logika, termasuk tubuh ibunya yang terasa sangat berat saat digendong.
  • Tiga hari sebelum wafat, sang ibu mengungkapkan kisah tirakat dan amalan batin yang pernah dijalaninya sepanjang hidup.
  • Suapan nasi dan tahu pada pukul 01.00 dini hari menjadi pelayanan terakhir seorang anak sebelum ibunya berpulang dengan tenang pada sepertiga malam.

JatiNetwork.Com – Ada pengalaman hidup yang sulit dijelaskan hanya dengan ilmu kedokteran atau logika manusia. Sebagian orang mungkin menyebutnya kebetulan, sebagian lagi memaknainya sebagai isyarat. Saya memilih menyimpannya sebagai rahasia Allah SWT yang pernah saya alami sendiri.

Sejak Mimih menjalani amputasi dan kembali menjalani perawatan, ada satu hal yang terus membuat saya bertanya-tanya.

Tubuh beliau semakin Gemuk, kulitnya putih bersih. Namun perlahan kurus, karena asupan makanan yang semakin hari semakin berkurang.

Secara kasat mata, berat badannya terus menurun hingga tinggal kulit membalut tulang. Namun setiap kali saya mengangkatnya menuju kamar mandi atau memindahkan posisi tubuhnya di atas tempat tidur, beban yang saya rasakan justru luar biasa berat.

Rasanya seperti mengangkat bongkahan batu.

Perasaan itu ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya.

Bi Dede, dan asisten rumah tangga kami, dan beberapa anggota keluarga lain yang pernah membantu juga merasakan hal yang sama.

Anehnya lagi, pada masa-masa terakhir kehidupannya, Mimih menolak digendong oleh siapa pun.

Beliau hanya ingin dipeluk dan diangkat oleh saya.

Seolah-olah seluruh rasa aman yang beliau miliki hanya ada dalam dekapan anak laki-lakinya.

Tiga hari sebelum wafat, kami berbincang cukup lama di kamar rumah saya di Kota Sumedang.

Sejak 20 Mei 2026, Mimih memang saya pindahkan dari Jatinunggal ke rumah kami di pusat kota Sumedang agar kebutuhan oksigen medis lebih mudah dipenuhi.

Jika sebelumnya saya harus menempuh perjalanan sekitar 45 kilometer pulang-pergi setiap kali mengisi tabung oksigen, kini jaraknya hanya sekitar tujuh kilometer saja.

Di tengah kondisi Mimih yang semakin bergantung pada bantuan oksigen, setiap menit menjadi sangat berharga.

Malam itu saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang sejak lama memenuhi pikiran.

“Mih… tubuh Mimih sekarang sudah sangat kurus. Tapi kenapa setiap Ujang angkat, rasanya berat sekali?”

Mimih tersenyum tipis.

Tatapannya begitu tenang.

Beliau kemudian berkata pelan,

“Mimih seumur hidup suka puasa, tirakat, bertapa, dan berdzikir, Jang. Mungkin ada amalan batin yang membuat raga Mimih terasa berat. Mungkin juga itu yang membuat Mimih sulit meninggal.”

Saya hanya terdiam.

Beliau kemudian bercerita bahwa sebelumnya sempat meminta Bi Dede mencari seseorang yang dapat membantu “melepaskan” amalan batin tersebut agar perjalanan pulangnya menjadi lebih ringan.

Mendengar penuturan itu, hati saya menolak.

Sebagai anak, saya belum siap kehilangan.

Saya segera memotong pembicaraan.

“Jangan bicara begitu, Mih. Luka operasi Mimih sudah mulai sembuh. Nanti kalau sudah kuat, kita umrah bersama. Ujang yang temani.”

Mimih hanya tersenyum dan mengangguk.

Kini saya baru memahami, mungkin saat itu beliau sedang menjaga perasaan anaknya.

Dua hari kemudian, saya bersama istri dan kakak akhirnya mengikhlaskan apa pun yang menjadi keinginan Mimih.

Kami hanya berharap beliau tidak lagi merasakan penderitaan yang panjang.

Pada Senin sore sekitar pukul 17.00 WIB, terjadi sesuatu yang masih saya ingat dengan sangat jelas.

Mimih tiba-tiba meminta mukena.

“Jang… ambilkan mukena. Mimih sudah tayamum. Mau salat Magrib.”

Saya melihat jam.

Hari masih terang.

“Mih, sekarang belum Magrib.”

Beliau hanya bergumam pelan.

Tak lama kemudian, beliau kembali meminta mukena kepada istri saya.

Jawabannya tetap sama.

Beliau seperti sedang menjemput waktu.

Ketika Magrib dan Isya benar-benar telah berlalu, kondisi Mimih justru berubah drastis.

Beliau tampak sangat segar.

Wajahnya cerah.

Bicaranya lancar.

Tidak ada keluhan sakit seperti hari-hari sebelumnya.

Hati saya dipenuhi harapan.

Saya bahkan mengeluarkan kursi roda baru yang sengaja saya belikan.

Malam itu saya mengangkat tubuh Mimih.

Anehnya, tubuh yang selama ini terasa sangat berat mendadak menjadi ringan.

Saya mendorong beliau berkeliling rumah.

Kami mengobrol.

Kami tertawa.

Saya benar-benar mengira Allah telah mengabulkan doa kami.

Namun saya tidak mengetahui bahwa malam itu justru menjadi cahaya terakhir sebelum lilin kehidupan beliau padam.

Sekitar pukul 23.00 WIB, Mimih memanggil saya.

“Jangan jauh-jauh, Jang. Minta air yang sudah didoakan… dan tolong doakan juga ke Abah.”

Saya mengambil segelas air putih.

Saya membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa terbaik, lalu meminumkannya perlahan kepada beliau.

Malam semakin sunyi.

Tepat sekitar pukul 01.00 WIB, Mimih kembali memanggil.

Beliau mengaku lapar.

“Mau nasi pakai tahu saja, Jang.”

Saya ambil nasi dan tahu segera menyiapkannya..

Saya duduk di samping ranjang.

Suapan demi suapan saya berikan dengan tangan saya sendiri.

Beliau mengunyah perlahan sambil sesekali memandang wajah saya.

Saat itu saya sama sekali tidak menyadari bahwa itulah suapan terakhir yang bisa saya berikan kepada ibu yang telah melahirkan saya.

Selama 66 hari sebelumnya, saya hampir tidak pernah benar-benar tidur.

Namun malam itu, setelah Mimih selesai makan dan kembali berbaring, rasa kantuk yang belum pernah saya rasakan seumur hidup datang begitu saja.

Saya tertidur di kursi tidak jauh dari tempat tidur mimih.

Begitu lelap.

Sekitar pukul 02.30 WIB, istri saya membangunkan saya.

“Yah (Ayah)… bangun. Tahajud yuk. Lihat Mimih dulu.”

Saya mendekat.

Saya menyentuh tangan beliau.

Saya memperhatikan dadanya.

Tidak lagi bergerak.

Saya memeriksa denyut nadinya. Saya cek saturasinya eror, saya keluarkan alat pengukur tensi juga eror. Lalu saya bukakan mata mimih, dan memanggilnya, Dia tidak bangun.

Hening.

Mimih telah berpulang.

Beliau meninggalkan dunia dengan sangat tenang pada sepertiga malam, ketika anak laki-lakinya sedang terlelap di sampingnya.

Saat itu saya baru memahami satu hal.

Allah SWT seolah sengaja menghadiahkan rasa kantuk yang luar biasa kepada saya.

Bukan karena saya lalai menjaga.

Melainkan karena Dia mengetahui saya tidak akan sanggup menyaksikan detik-detik sakaratul maut ibu yang begitu saya cintai.

Dengan kasih sayang-Nya, Allah memberikan ruang yang sunyi agar Mimih kembali kepada-Nya dengan damai.

Dan pada sepertiga malam itu pula, saya menyadari bahwa tugas seorang anak bernama Ujang untuk menggendong raga berat Mimih di dunia telah benar-benar selesai.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING