Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

25 Jam Sehari: Ketika Meja Direktur Berubah Menjadi Kursi Roda

Seorang anak mendampingi ibunya yang duduk di kursi roda setelah meninggalkan karier untuk merawatnya.
Ilustrasi: Rauf Nuryama mendampingi sang ibu menjalani masa pemulihan di rumah setelah operasi, menghabiskan hari-harinya sebagai pendamping penuh waktu menggantikan rutinitas sebagai pimpinan perusahaan.

Oleh: Rauf Nuryama

Ringkasan :

  • Setelah meninggalkan seluruh jabatan, Rauf Nuryama menjalani hari-hari sebagai perawat penuh waktu bagi ibunya yang sedang sakit.
  • Rutinitas yang dulu dipenuhi rapat berubah menjadi panggilan sang ibu yang datang hampir setiap lima menit.
  • Dari kelelahan fisik itu, lahir kesadaran bahwa setiap panggilan seorang ibu adalah jalan menuju ketulusan dan bakti.

JatiNetwork.Com – Keputusan meninggalkan berbagai jabatan ternyata bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru sejak hari itu, babak kehidupan yang jauh lebih berat sekaligus lebih bermakna benar-benar dimulai.

Jika sebelumnya saya terbiasa mengatur jadwal rapat, target perusahaan, dan strategi organisasi, kini seluruh teori manajemen waktu kehilangan maknanya. Di kamar perawatan Mimih di rumah Jatinunggal, waktu bergerak dengan cara yang sama sekali berbeda.

Di ruangan sederhana itu, satu hari tidak lagi terasa terdiri atas 24 jam. Ritme kehidupan berubah menjadi hitungan lima menit sekali. Hampir setiap saat ada panggilan yang membutuhkan respons segera.

Fase awal kepulangan saya untuk merawat Mimih menjadi ujian fisik yang sesungguhnya. Setelah menjalani amputasi ibu jari kaki kiri, kondisi kesehatan beliau belum sepenuhnya stabil. Komplikasi pascaoperasi membuat fungsi jantung dan paru-parunya harus terus dipantau.

Rumah kami seolah berubah menjadi ruang siaga. Setiap perubahan kecil pada kondisi Mimih menghadirkan kecemasan baru yang membuat seluruh keluarga selalu waspada.

Di tengah situasi itu, satu per satu tenaga keluarga mulai terkuras. Istri dan keponakan saya yang selama berhari-hari bergantian menjaga di rumah sakit akhirnya jatuh sakit akibat kelelahan.

Melihat kondisi mereka, saya mengambil keputusan agar keduanya kembali ke rumah di Sumedang untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Saya tidak ingin mereka ikut tumbang ketika perjuangan ini masih panjang.

Sejak saat itu, sebagian besar waktu saya habiskan seorang diri mendampingi Mimih di rumah Jatinunggal. Sesekali memang ada tetangga yang datang menjenguk, dibantu pula oleh asisten rumah tangga dan mantan karyawan Mimih yang dengan setia membantu. Namun bagi Mimih, rasa tenang hanya hadir ketika anak laki-lakinya berada di dekatnya.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas yang nyaris tanpa jeda.

Suara Mimih hampir selalu terdengar setiap beberapa menit.

“Jang, pang nyandakkeun itu…”

“Jang, hoyong ka jamban…”

“Jang, tulung geserkeun bantal…”

“Jang, Mimih hoyong hudang…”

Kalimat-kalimat sederhana itu terus berulang sepanjang siang hingga malam. Baru beberapa menit saya merebahkan badan di tikar kecil di samping tempat tidur, panggilan itu kembali terdengar.

Saya sering berseloroh dalam hati, sehari semalam di kamar Mimih rasanya bukan lagi 24 jam, melainkan 25 jam. Bukan karena waktu benar-benar bertambah, tetapi karena setiap menit seolah dipenuhi panggilan yang tidak pernah berhenti.

Di ruangan kecil itulah ego saya perlahan runtuh.

Di luar rumah, saya pernah terbiasa memimpin rapat, memberikan arahan kepada karyawan, dan menerima penghormatan sebagai pimpinan perusahaan. Namun semua identitas itu kehilangan arti ketika saya berdiri menopang tubuh Mimih agar bisa berjalan menuju kamar mandi, memperbaiki posisi bantalnya, atau sekadar menyuapkan minum di tengah malam.

Merawat seorang ibu ternyata bukan hanya soal memberikan obat sesuai jadwal atau memastikan kebutuhan fisiknya terpenuhi. Lebih dari itu, merawat adalah kesediaan menyerahkan kenyamanan diri sepenuhnya demi kebahagiaan orang yang kita cintai.

Saat teman-teman mungkin sedang menikmati secangkir kopi, menghadiri pertemuan penting, atau beristirahat dengan nyaman, saya menghabiskan malam-malam panjang di samping tempat tidur Mimih. Tidur bukan lagi kebutuhan yang mudah dipenuhi, melainkan kemewahan yang hanya datang sesaat.

Tubuh saya memang mulai kehabisan tenaga. Mata sering terasa berat, punggung pegal, dan kantuk menjadi teman yang hampir selalu kalah oleh panggilan Mimih.

Namun perlahan saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya mengerti.

Setiap lima menit ketika Mimih memanggil nama saya, sesungguhnya bukan beliau sedang merepotkan anaknya. Saya justru merasa Allah SWT sedang membuka kesempatan agar saya belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan bakti yang sesungguhnya.

Meja direktur yang dahulu saya banggakan kini telah berganti menjadi pegangan kursi roda, tempat tidur pasien, dan tangan renta seorang ibu.

Di ruang sederhana itulah saya mulai menyadari bahwa kemuliaan seseorang ternyata tidak selalu lahir dari ruang rapat, podium, atau kursi jabatan. Kadang, ia justru tumbuh dari kamar kecil tempat seorang anak belajar melayani ibunya tanpa mengenal lelah.

Perjalanan itu baru saja dimulai. Saya belum mengetahui bahwa di balik hari-hari panjang penuh keletihan tersebut, Allah sedang menyiapkan pelajaran yang jauh lebih besar tentang cinta, kehilangan, dan makna bakti yang sesungguhnya. Ini adalah Tulisan Kedua, 66 Hari Bersama Mimih.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING