Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

Bait Langit di Pipi yang Kuyu: “A, Surga Masih Ada di Rumah”

Seorang bibi mengusap air mata keponakannya yang kelelahan saat merawat ibunya yang sedang sakit.
Ilustrasi: Momen sederhana ketika sebuah kalimat dari seorang bibi mengubah cara pandang Rauf Nuryama dalam menjalani hari-hari merawat sang ibu yang sedang sakit.

Oleh: Rauf Nuryama

Ringkasan 3 Poin

  • Berminggu-minggu merawat sang ibu membuat fisik dan batin Rauf Nuryama berada di ambang kelelahan.
  • Sebuah kalimat sederhana dari sang bibi mengubah seluruh cara pandangnya tentang bakti kepada orang tua.
  • Sejak saat itu, setiap panggilan sang ibu tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan kesempatan mendekat kepada surga.

JatiNetwork.Com – Ada saat dalam hidup ketika tubuh sudah tidak lagi sanggup menopang beban yang dipikul, sementara hati dipaksa tetap berdiri tegak. Di titik seperti itulah manusia sering kali menemukan pelajaran yang tidak pernah diajarkan oleh buku, jabatan, ataupun pengalaman kerja.

Berminggu-minggu menjalani kehidupan sebagai pendamping penuh waktu bagi Mimih membuat tubuh saya perlahan menyerah. Kurang tidur yang berkepanjangan menghadirkan rasa letih yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Punggung terasa kaku, mata seperti memikul beban berat, sementara pikiran perlahan kehilangan kejernihannya. Hari demi hari berlalu tanpa benar-benar memberi kesempatan untuk memulihkan tenaga.

Namun di hadapan Mimih, saya selalu berusaha terlihat baik-baik saja.

Setiap kali beliau memanggil, saya segera berdiri, tersenyum, lalu menghampirinya seolah tidak ada rasa lelah sedikit pun. Saya tidak ingin beliau membaca kegelisahan yang sedang saya sembunyikan.

Saya percaya, hati seorang ibu memiliki kepekaan yang tidak dimiliki siapa pun. Sedikit perubahan raut wajah anaknya dapat segera terbaca, bahkan tanpa sepatah kata.

Meski demikian, manusia tetap memiliki batas.

Ada saat ketika kekuatan batin mulai terkikis perlahan. Saya merasa seperti berjalan sendirian menghadapi hari-hari yang dipenuhi ketidakpastian. Kelelahan tidak lagi sekadar terasa di tubuh, tetapi mulai merambat hingga ke dalam jiwa.

Di tengah suasana seperti itu, suatu siang terdengar ketukan di pintu rumah.

Yang datang adalah Bibi saya, istri dari adik almarhum Abah. Beliau sengaja datang dari jauh untuk menjenguk Mimih sekaligus melihat keadaan kami.

Pertemuan itu sederhana, sebagaimana pertemuan keluarga pada umumnya.

Kami saling mendekat, berpelukan, lalu melakukan cipika-cipiki seperti kebiasaan keluarga kami. Namun saya merasakan pelukan itu berbeda.

Hangatnya begitu dalam.

Seolah-olah Bibi mengetahui seluruh kelelahan yang selama ini saya simpan rapat di balik senyum.

Saat pelukan mulai terlepas, tangan beliau tidak langsung menjauh.

Telapak tangannya yang mulai keriput perlahan menangkup pipi saya yang semakin tirus akibat kurang tidur. Beliau menatap wajah saya lama.

Tanpa saya sadari, air mata ternyata sudah mengalir.

Dengan jemarinya yang lembut, Bibi mengusap sudut mata saya.

Lalu, dengan suara yang sangat lirih, beliau berbisik,

“A… Surga masih ada di rumah.”

Kalimat itu begitu singkat.

Namun rasanya seperti menghentikan waktu.

Tujuh kata sederhana itu menghancurkan seluruh benteng yang selama berminggu-minggu saya bangun.

Air mata yang selama ini saya tahan akhirnya runtuh begitu saja.

Saya menangis di pelukan Bibi seperti anak kecil yang baru menemukan jalan pulang.

Seluruh rasa lelah, kantuk, bahkan kejengkelan-kejengkelan kecil yang sesekali muncul dalam hati larut bersama tangisan siang itu.

Saya merasa Allah SWT sedang menegur saya melalui lisan seorang Bibi.

Seolah Dia ingin mengingatkan bahwa saya tidak sedang kehilangan waktu karena merawat orang tua.

Sebaliknya, saya sedang diberi kesempatan yang tidak dimiliki semua orang.

Kesempatan untuk melayani seseorang yang dalam ajaran Islam disebut sebagai salah satu jalan menuju surga.

Sejak hari itu, saya mulai memandang seluruh rutinitas dengan cara yang berbeda.

Panggilan Mimih setiap lima menit bukan lagi gangguan yang memecah waktu istirahat.

Setiap permintaan untuk membantu berdiri, menggeser bantal, atau mengantarkan ke kamar mandi bukan lagi beban.

Semuanya berubah menjadi kehormatan.

Saya mulai memahami bahwa tidak semua orang diberi kesempatan menemani ibunya pada masa-masa terakhir kehidupan.

Banyak anak yang baru menyadari berharganya waktu setelah semuanya terlambat.

Sementara saya, Allah masih mengizinkan untuk berada di sisi Mimih, menggenggam tangannya, mendengar suaranya, dan memenuhi setiap panggilannya.

Sejak siang yang mengubah hidup itu, suasana kamar Mimih tidak lagi terasa sebagai ruang penuh kelelahan.

Ruangan sederhana itu telah berubah menjadi madrasah kehidupan.

Dan setiap kali suara lirih Mimih memanggil nama saya di tengah malam, saya selalu berusaha menjawabnya dengan hati yang penuh syukur.

“Labbaik, wahai surgaku… Ujang datang.”***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING