Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

Setengah Hari untuk Setengah Betis: Perang Batin di Hermina Pasteur

Seorang anak menggenggam tangan ibunya sebelum operasi amputasi di rumah sakit.
Ilustrasi: Rauf Nuryama menjalani salah satu keputusan terberat dalam hidupnya ketika harus menyetujui amputasi kaki sang ibu demi menyelamatkan nyawanya, lalu membawa pulang bagian tubuh tersebut untuk dimakamkan di kampung halaman.

Oleh: Rauf Nuryama

Ringkasan 3 Poin

  • Kondisi infeksi yang semakin parah membuat dokter di RS Hermina Pasteur menyatakan kaki kiri Mimih harus diamputasi hingga setengah betis demi menyelamatkan nyawanya.
  • Rauf Nuryama menghabiskan hampir setengah hari membujuk sang ibu sebelum akhirnya memperoleh persetujuan yang paling berat dalam hidupnya.
  • Setelah operasi selesai, ia membawa pulang potongan kaki ibunya untuk dimakamkan di samping makam sang ayah di Jatinunggal.

JatiNetwork.Com – Ada keputusan dalam hidup yang tidak pernah benar-benar siap diambil oleh seorang anak. Salah satunya adalah ketika harus menyetujui tindakan medis yang akan memisahkan bagian tubuh ibu kandungnya sendiri demi menyelamatkan nyawanya.

Perjalanan kami dari Rumah Sakit Immanuel Bandung ternyata belum berakhir. Setelah pemeriksaan lanjutan, dokter menilai kondisi Mimih membutuhkan penanganan yang lebih spesifik.

Hari itu juga Mimih dibawa kembali bergerak menuju RS Hermina Pasteur Bandung.

Di rumah sakit itulah kami menerima kenyataan yang paling berat sepanjang perjalanan merawat Mimih.

Setelah mempelajari hasil pemeriksaan dan melihat jaringan kaki kiri yang telah menghitam akibat tidak lagi mendapat aliran darah, dokter memanggil saya untuk berbicara.

Dengan nada tenang, tetapi penuh kehati-hatian, beliau menjelaskan bahwa jaringan pada kaki Mimih telah mati.

Infeksi terus menjalar ke atas.

Satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran yang dapat mengancam nyawa adalah melakukan amputasi hingga batas setengah betis.

Kalimat itu seperti menghentikan dunia.

Saya hanya terdiam.

Sebagai seorang anak, sangat sulit menerima kenyataan bahwa saya harus menandatangani persetujuan untuk memotong bagian tubuh ibu yang telah melahirkan dan membesarkan saya.

Namun dokter juga menjelaskan kenyataan medis yang tidak bisa diabaikan.

Apabila amputasi tidak segera dilakukan, infeksi berisiko terus menyebar ke jaringan yang lebih tinggi, masuk ke organ vital, dan membahayakan keselamatan Mimih.

Kami tidak lagi memiliki banyak waktu.

Dengan hati yang penuh pergulatan, saya kembali ke kamar perawatan.

Saya duduk di samping tempat tidur Mimih.

Tangan beliau saya genggam erat.

Dengan suara yang berusaha saya jaga agar tetap tenang, saya mulai berbicara.

“Mih… kalau sakitnya diputus sampai di sini, insyaallah Mimih bisa sembuh. Nanti Ujang yang dorong kursi roda ke mana pun Mimih ingin pergi. Kalau luka sudah benar-benar pulih, kita ikhtiar memasang kaki palsu.”

Saya berhenti sejenak.

“Tapi kalau operasi ini tidak dilakukan… Mimih akan terus menahan sakit seperti sekarang.”

Setelah itu kami sama-sama terdiam.

Ruangan menjadi sunyi.

Mimih memandang langit-langit kamar.

Saya hanya menunggu.

Menit demi menit berlalu tanpa sepatah kata.

Keheningan itu berlangsung hampir setengah hari.

Bagi saya, itulah setengah hari terpanjang sepanjang hidup.

Hingga akhirnya, menjelang sore, Mimih menoleh kepada saya.

Dengan wajah yang tenang, beliau menganggukkan kepala.

“Iya… enggak apa-apa.”

Lalu beliau melanjutkan kalimat yang akan selalu saya ingat.

“Dipotong saja.”

Saya tidak lagi mampu menahan air mata.

Saya memeluk tubuh beliau erat-erat.

Tangis yang selama ini saya simpan akhirnya pecah begitu saja.

Di balik tubuh yang mulai rapuh itu, saya melihat keberanian seorang ibu yang jauh lebih besar daripada keberanian anaknya sendiri.

Persetujuan itu segera saya sampaikan kepada tim dokter.

Tak lama kemudian berbagai prosedur praoperasi dimulai.

Dokter bedah, dokter anestesi, apoteker, hingga ahli gizi datang bergantian menjelaskan setiap tahapan tindakan yang akan dijalani Mimih.

Atas izin Allah SWT, operasi besar tersebut berjalan lancar.

Namun ternyata perjuangan saya belum selesai.

Beberapa saat setelah tindakan selesai, seorang petugas medis keluar dari ruang operasi sambil membawa sebuah bungkusan kain putih.

Bungkusan itu kemudian diserahkan ke tangan saya.

Di dalamnya terdapat bagian kaki kiri Mimih yang baru saja diamputasi.

Malam itu juga saya mendapat amanah untuk membawa pulang potongan kaki tersebut ke kampung halaman di Jatinunggal agar segera dimakamkan. Namun karena Mimih masih harus menjalani pemulihan, serta harus transfusi darah, akhirnya diputuskan untuk disimpan di lemari es, masih di ruangan VIP kamar rawat inap.

Hari itu juga mimih pasih puasa, dan baru bisa minum serta makan di tengah malam. Saya mendampinginya, menunggu detik demi detik, hingga mimih bisa makan kembali.

Keesokan hari, saya melakukan perjalanan dari Bandung menuju Sumedang menjadi perjalanan paling sunyi yang pernah saya alami.

Sepanjang jalan, saya duduk di balik kemudi dengan bungkusan putih itu berada di dekat saya. Ditemani istri yang setia mendampingi saya. Mimih masih menunggu di RS, dan ada Kakak serta Keponakan saya di sana.

Tidak banyak kata yang mampu terucap.

Hanya doa yang terus mengalir dalam hati.

Sesampainya di rumah orang tua, Paman saya, adik kandung Mimih, telah menunggu.

Saat saya menceritakan seluruh proses yang terjadi di ruang operasi, beliau tidak mampu lagi membendung kesedihan.

Kami saling berpelukan.

Tangis kami pecah di ruang tengah rumah yang selama ini menjadi saksi perjalanan Mimih.

Tanpa menunggu lama, saya berangkat ke Makam Keluarga. Saya kuburkan setengah betis mimih disana.

Dengan tangan sendiri saya menggali tanah di samping makam Abah.

Di tempat itulah saya memakamkan potongan kaki Mimih.

Saya menyatukannya dengan ibu jari kaki kiri yang telah lebih dahulu dimakamkan setelah operasi pertama.

Saya berdiri cukup lama memandangi gundukan tanah kecil itu.

Dalam hati, saya mengucapkan sebuah janji.

Bahwa suatu hari nanti, bagian tubuh yang kini terpisah itu akan kembali dipersatukan dengan jasad Mimih.

Saat itu saya belum mengetahui bagaimana Allah akan mempertemukan kembali semuanya.

Namun sepuluh minggu kemudian, janji yang saya bisikkan di itu benar-benar menemukan jawabannya.

(Bersambung)***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING