Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

Keajaiban Tanah Kuburan, Dan Pengawalan Ratusan Siswa dan Warga Antarkan Mimih

Ratusan siswa memberikan penghormatan terakhir kepada seorang perempuan yang pernah mewakafkan tanah untuk sekolah mereka
Ilsutrasi: Ratusan siswa berdiri membentuk pagar betis saat prosesi pemakaman Mimih sebagai penghormatan kepada sosok yang pernah mewakafkan tanah untuk sekolah mereka.

Oleh: Rauf Nuryama

Ringkasan :

  • Rauf Nuryama menepati janji untuk menyatukan kembali potongan kaki sang ibu dengan jasadnya sebelum dimakamkan.
  • Liang lahat Mimih menghadirkan pemandangan yang menggetarkan: tanah merah yang gembur tanpa akar maupun batu, meski berada di area yang dipenuhi pepohonan tua.
  • Ratusan siswa berdiri membentuk pagar betis sebagai penghormatan terakhir kepada Mimih yang belasan tahun sebelumnya mewakafkan tanah untuk pembangunan sekolah.

JatiNetwork.Com – Ada janji yang tidak pernah saya ucapkan kepada siapa pun. Janji itu hanya saya bisikkan di dalam hati ketika dua bulan sebelumnya saya memeluk bungkusan kain putih berisi potongan kaki Mimih yang baru diamputasi.

Malam itu, saat saya menguburkan potongan kaki tersebut di samping makam Abah, saya berjanji kepada diri sendiri bahwa suatu hari nanti saya akan menjemputnya kembali.

Saya tidak ingin Mimih menghadap Allah SWT dalam keadaan raga yang terpisah.

Janji itulah yang pertama kali saya tunaikan pada pagi hari menjelang pemakaman.

Sebelum liang lahat utama dipersiapkan, saya meminta para penggali kubur membuka kembali lubang kecil tempat potongan kaki Mimih dimakamkan dua bulan sebelumnya.

Dengan tangan saya sendiri, saya mengangkat kembali potongan setengah betis dan ibu jari kaki kiri yang telah lebih dahulu beristirahat di dalam tanah.

Saya membersihkan kain pembungkusnya dengan penuh kehati-hatian.

Kemudian saya membawanya menuju tempat pemandian jenazah.

Di sana, lebih dari dua puluh lima ibu-ibu pengajian telah berkumpul.

Dengan penuh kelembutan mereka memandikan Mimih.

Potongan kaki yang selama dua bulan terpisah itu pun ikut dimandikan kembali bersama jasad utuhnya.

Setelah seluruh proses selesai, potongan tersebut diletakkan kembali pada posisi semula di ujung tubuh Mimih, lalu dibalut bersama dalam satu lembar kain kafan.

Saat itulah hati saya terasa sangat lega.

Janji yang selama ini saya simpan akhirnya terpenuhi.

Mimih menghadap Sang Pencipta dalam keadaan utuh.

Tidak ada lagi bagian tubuh yang tertinggal di tempat lain.

Keajaiban berikutnya terjadi di area pemakaman keluarga.

Liang lahat Mimih digali tepat di samping makam Abah.

Secara logika, lokasi itu berada di bawah naungan pepohonan besar yang telah berumur puluhan tahun.

Biasanya, setiap kali ada pemakaman, para penggali kubur harus berjuang memotong akar-akar besar dan mengangkat batu-batu keras yang memenuhi tanah.

Namun hari itu pemandangan yang kami lihat benar-benar berbeda.

Tanah di liang lahat Mimih berwarna merah bersih.

Teksturnya begitu gembur.

Tidak ada batu.

Tidak ada akar pohon yang melintang.

Lubang itu seolah telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Tanahnya begitu lunak, memudahkan seluruh proses penggalian hingga selesai.

Banyak yang memandangnya sebagai sebuah pertanda.

Saya sendiri memilih menyimpannya sebagai rahasia Allah SWT.

Penghormatan kepada Mimih tidak hanya datang dari keluarga.

Sebelum prosesi pemberangkatan jenazah, Bupati Sumedang bersama sejumlah pejabat daerah hadir ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa.

Namun pemandangan yang paling mengguncang hati saya justru terjadi ketika keranda mulai diangkat menuju pemakaman.

Ratusan orang pelayat mengiringi langkah kami.

Di sepanjang jalan desa, ratusan siswa-siswi SMK dan guru gurunya berdiri berjajar membentuk pagar betis.

Mereka mengenakan seragam sekolah.

Tidak ada suara riuh.

Tidak ada percakapan.

Mereka hanya berdiri tegak dengan kepala tertunduk, mengiringi keranda Mimih yang perlahan melintas di hadapan mereka.

Melihat pemandangan itu, ingatan saya langsung melayang sekitar enam belas tahun ke belakang.

Saat itu Mimih dengan ikhlas mewakafkan sebidang tanah milik keluarga.

Tidak ada syarat.

Tidak ada permintaan. Kecuali minta dibuatkan Mushola dilokasi sekolah tersebut.

Beliau hanya berharap tanah itu dapat digunakan untuk pendidikan anak-anak kampung.

Hari ini, tanah wakaf itu telah berubah menjadi sebuah sekolah.

Ratusan siswa belajar di sana setiap hari.

Anak-anak yang menikmati manfaat dari wakaf tersebut kini berdiri di sepanjang jalan, memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan yang telah membuka jalan masa depan mereka.

Mimih tidak pernah meminta balasan.

Namun Allah SWT memperlihatkan balasannya di hadapan mata saya sendiri.

Sesampainya di pemakaman, saya memperoleh kesempatan yang mungkin tidak akan pernah dialami setiap anak.

Saya turun ke dalam liang lahat.

Saya memangku Tubuh Mimih, untuk terakhir kalinya.

Saya mendekapkan tubuh beliau ke dinding tanah dengan kedua tangan saya sendiri.

Perlahan papan-papan kayu mulai dipasang.

Tanah merah itu kemudian menutup seluruh ruang.

Kini Mimih kembali beristirahat di samping Abah.

Berdampingan kembali setelah dipisahkan oleh waktu.

Namun kemuliaan itu belum berhenti di hari pemakaman.

Hari kedua, Tahlilan. Hari Ketga, Hari ketujuh dan setiap Bada Jumat.

Hampir seratus orang terus berdatangan.

Mereka melantunkan tahlil.

Mereka mengirimkan doa tanpa putus.

Saat melihat semua itu, saya semakin memahami satu pelajaran.

Kebaikan yang ditanam dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang.

Ia akan tumbuh diam-diam.

Lalu suatu hari kembali kepada pemiliknya dalam bentuk yang tidak pernah disangka.

Dan pada hari kepulangan Mimih, saya menyaksikan sendiri bagaimana ratusan manusia, tanah, bahkan keheningan, seolah bersekutu untuk memuliakan seorang ibu yang sepanjang hidupnya tidak pernah lelah menanam kebaikan.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING