Ringkasan Berita:
- Dua kapal perusak AS, USS Michael Murphy dan USS Frank E. Peterson, dilaporkan dipaksa mundur oleh militer Iran saat mencoba menembus Selat Hormuz.
- Investigasi menyebut kapal AS menggunakan taktik perang elektronik dan memalsukan identitas sebagai kapal dagang Oman.
- Ketegangan memuncak saat rudal jelajah Iran dikabarkan sudah mengunci target dan memberikan ultimatum 30 menit sebelum penghancuran.
JatiNetwork.Com – Ketegangan di jalur perairan paling strategis dunia, Selat Hormuz, kembali mencapai titik didih. Sebuah investigasi terbaru mengungkap bahwa dua kapal perusak milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) nyaris hancur total setelah mencoba melakukan operasi berisiko tinggi pada Sabtu pekan lalu.
Dua kapal perusak kelas Arleigh Burke, USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E. Peterson (DDG 121), dilaporkan dicegat dan dipaksa mundur oleh pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran saat mencoba melintasi jalur tersebut.
Taktik Penyamaran yang Gagal
Berdasarkan informasi dari sumber militer-keamanan tingkat tinggi, armada AS diduga menggunakan taktik penyamaran yang cukup berani. Mereka mematikan sistem pelaporan posisi dan mencoba memalsukan identitas sebagai kapal komersial milik Oman yang sedang melakukan transit pesisir.
Tak hanya itu, kapal-kapal perang ini memilih rute di perairan dangkal yang dekat dengan pantai, berharap pasukan Iran lengah di tengah situasi gencatan senjata yang sedang berlangsung. Namun, radar dan patroli IRGC berhasil mendeteksi tipu daya tersebut di sekitar wilayah Fujairah.
Ultimatum 30 Menit di Ujung Rudal
Laporan menyebutkan situasi berubah mencekam ketika rudal jelajah Iran berhasil mengunci target. Pihak IRGC melalui saluran internasional 16 mengeluarkan peringatan keras: kapal AS diberi waktu hanya 30 menit untuk berbalik arah atau menghadapi kehancuran total.
“Kapal tersebut hanya beberapa menit lagi dari kehancuran setelah radar rudal mengunci mereka dan drone penyerang dikerahkan di atas kapal,” tulis laporan investigasi tersebut. Menanggapi ancaman nyata itu, armada AS dilaporkan mematuhi peringatan dan segera meninggalkan lokasi.
Misi Propaganda di Tengah Perundingan
Operasi ini diduga bukan sekadar manuver militer biasa, melainkan upaya propaganda untuk memengaruhi perundingan berisiko tinggi antara Iran dan AS yang sedang berlangsung di Islamabad, Pakistan, dengan mediasi pemerintah setempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Komando Pusat AS (CENTCOM) belum memberikan konfirmasi detail mengenai klaim pencegatan ini, meskipun otoritas militer Iran secara tegas menyatakan bahwa kendali penuh atas transit di Selat Hormuz berada di tangan mereka.***





