Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

Bangbayang, Desa di Ujung Situraja yang Berbatasan Langsung dengan Hutan Lindung

Desa Bangbayang Situraja Sumedang berbatasan dengan hutan lindung
Desa Bangbayang di Kecamatan Situraja, Sumedang, berada di kawasan ujung wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan dan pegunungan.. [Karya AI]

Ringkasan :

  • Desa Bangbayang di Kecamatan Situraja memiliki kampung buhun yang secara turun-temurun disebut hanya memiliki 70 rumah.
  • Desa yang berjarak sekitar 24 kilometer dari Sumedang ini berbatasan langsung dengan kawasan hutan dan pegunungan.
  • Selain pertanian, peternakan sapi, serta gula aren, Bangbayang memiliki potensi wisata seperti hutan pinus dan Curug Cikidang.

JatiNetwork.Com – Di ujung wilayah Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, terdapat Desa Bangbayang yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan dan pegunungan.

Desa ini menyimpan cerita unik tentang Kampung Bangbayang yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai kampung buhun dengan jumlah rumah yang disebut tidak pernah lebih dari 70 rumah.

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan ketentuan tidak tertulis mengenai jumlah rumah tersebut berlaku, sehingga sejarah awal Kampung Bangbayang masih menjadi cerita yang diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.

Kepala Desa Bangbayang Umar mengatakan, jumlah rumah di kampung tertua tersebut tetap berada di sekitar 70 rumah dan tidak mengalami penambahan maupun pengurangan.

“Jumlahnya tak lebih dari 70 rumah. Kalau ada keluarga baru biasanya pindah dari kampung ini atau ada yang meninggal dunia,” kata Umar yang telah menjabat sebagai kepala desa sejak 2006.

Kampung tersebut menjadi bagian dari Desa Bangbayang yang kini memiliki sekitar 330 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 945 jiwa.

Sekretaris Desa Bangbayang Makmur Setiawan mengatakan, letak desa yang berada di kawasan paling ujung Situraja membuat warga Bangbayang kerap mendapat gurauan dari masyarakat luar.

“Memang betul, suka diledek urang Bangbayang mah. Saya ikut minggon di kantor Kecamatan Situraja, saat datang ada saja yang bilang wah urang Bangbayang geus datang, nyubuh turun gunung jigana teh,” ujar Makmur.

Meski berada di ujung wilayah, akses menuju Bangbayang sebenarnya tidak terlalu jauh karena jaraknya sekitar 12 kilometer dari Loji, tepatnya dari pertigaan jalan raya Sumedang-Situraja di sekitar kawasan SPBU Cicapar.

Menurut Makmur, perjalanan menggunakan sepeda motor dari kawasan tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dalam kondisi perjalanan normal.

Dari pusat Kabupaten Sumedang, Desa Bangbayang berjarak sekitar 24 kilometer dengan kondisi jalan yang telah mendapat peningkatan kualitas secara bertahap.

Ruas jalan dari arah Sumedang disebut telah menggunakan aspal hotmix dan rigid beton hingga sekitar kilometer tujuh, sementara jalan di wilayah Desa Bangbayang juga terus diperbaiki dalam dua tahun terakhir.

Kehidupan masyarakat Bangbayang banyak bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan, selain peternakan sapi yang terlihat hampir di setiap rumah warga.

Bangbayang juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi gula aren atau gula kawung, sementara kawasan hutan dan sekitar hutan mulai dimanfaatkan untuk penanaman kopi.

“Sekarang di kawasan hutan dan sekitar hutan ditanami kopi, sekitar 30 hektaran sudah ditanami kopi,” kata Umar.

Karena belum tersedia transportasi umum menuju Bangbayang, masyarakat selama ini mengandalkan kendaraan pribadi atau jasa ojek untuk melakukan perjalanan keluar desa.

Tarif ojek disebut berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu sekali perjalanan dan dapat mencapai sekitar Rp50 ribu pada malam hari, sementara kepemilikan sepeda motor kini telah menjadi bagian penting dari mobilitas warga.

Di balik kehidupan masyarakatnya yang sederhana, kawasan sekitar Bangbayang juga menyimpan sejumlah potensi wisata yang berada dekat dengan kawasan hutan.

Salah satunya berada di Kampung Sadaray, kawasan hutan pinus yang dimanfaatkan sebagai tempat wisata sekaligus lokasi yang biasa digunakan masyarakat untuk kegiatan meditasi.

Bangbayang juga memiliki Curug Cikidang, sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 20 meter yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dari ujung kampung.

Jarak menuju Curug Cikidang sekitar 750 meter dengan jalur yang menyusuri Sungai Cicapar, sementara pemerintah desa telah membuat kolam kecil dengan konstruksi bronjong pada bagian aliran air.

Kedekatan dengan kawasan hutan membuat Bangbayang memiliki karakter geografis yang berbeda dibandingkan banyak wilayah lain di Situraja, sekaligus menyimpan potensi alam dan cerita lokal yang menarik untuk terus digali.

Desa di ujung Situraja ini pada akhirnya bukan hanya tentang jalan yang berakhir di kawasan pegunungan, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat, tradisi kampung buhun, pertanian, perkebunan, dan potensi wisata yang tumbuh berdampingan dengan alam.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING