Lowongan Penulis
Bagi Anda yang Hoby Menulis, ingin jadi wartawan? Bergabung bersama Kami. Kirim CV Anda ke jatinetworkindonesia@gmail.com

Mengapa Lolos Garis Kemiskinan tapi Tetap Masuk Desil Bawah? Menguak ‘Plot Twist’ Data Bansos

Kepemilikan aset tunggal seperti sepeda motor sering kali mengecoh pandangan mata, padahal beban pengeluaran riil rumah tangga jauh lebih besar di balik layar. (Foto: Ilustrasi/AI)

Ringkasan Berita

  • Lolos dari Garis Kemiskinan tidak otomatis membuat seseorang keluar dari kelompok penerima bantuan sosial.
  • Sistem desil kesejahteraan menggunakan pendekatan multidimensi, mulai dari kondisi rumah, jumlah tanggungan hingga stabilitas pekerjaan.
  • Banyak keluarga masuk Desil 1-4 karena dinilai rentan jatuh miskin, meski pendapatannya terlihat cukup.

SUMEDANG, JATINETWORK.COM – Di artikel serial pertama kemarin, kita sudah belajar cara menghitung mandiri Garis Kemiskinan (GK). Kita tahu bahwa jika pengeluaran sebuah keluarga dengan empat anggota di Sumedang berada di atas Rp1,74 juta per bulan, mereka resmi menyandang status “tidak miskin” secara absolut versi Badan Pusat Statistik (BPS).

Namun di lapangan, sering kali muncul keanehan yang memicu perdebatan antarwarga. Ada orang yang penghasilannya sudah di atas angka tersebut, bahkan sanggup mencicil sepeda motor baru, tetapi namanya tetap tercantum sebagai penerima bantuan sosial (bansos) atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Masyarakat pun langsung menuding ada permainan atau ketidakadilan.

Padahal, dalam kacamata birokrasi data nasional, fenomena ini merupakan hal yang sangat wajar.

Mengapa seseorang yang sudah lolos dari Garis Kemiskinan ternyata masih bisa berada di kelompok Desil 1 hingga Desil 4?

Jawabannya terletak pada perbedaan cara negara mengukur “kemiskinan” dan “kesejahteraan”.

Isi Dompet versus Kondisi Riil Rumah Tangga

Garis Kemiskinan yang dirilis BPS pada dasarnya hanya mengukur satu dimensi, yakni kemampuan konsumsi dasar.

Dengan kata lain, ukuran ini melihat apakah sebuah rumah tangga mampu memenuhi kebutuhan pangan setara 2.100 kilokalori per orang per hari dan kebutuhan dasar nonmakanan.

Sederhananya, Garis Kemiskinan lebih banyak melihat isi dompet saat ini.

Sementara itu, penentuan kelompok desil kesejahteraan dalam basis data nasional, seperti Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) dan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), menggunakan pendekatan multidimensi.

Sistem tidak hanya melihat berapa pendapatan bulanan seseorang, tetapi juga menilai tingkat kerentanan rumah tangga dalam jangka panjang.

Ada tiga faktor besar yang sering menjadi penentu mengapa seseorang tetap berada di desil bawah.

1. Faktor Beban Tanggungan Keluarga (Dependency Ratio)

Dua keluarga di Sumedang bisa saja sama-sama memiliki pendapatan Rp3 juta per bulan.

Namun, Keluarga A hanya menghidupi satu anak balita.

Sebaliknya, Keluarga B memiliki tiga anak yang masih sekolah dan harus merawat satu orang tua lanjut usia yang sakit-sakitan.

Dalam sistem desil, Keluarga B memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi karena beban tanggungannya lebih besar dan risiko jatuh miskinnya lebih tinggi.

Akibatnya, mereka dapat ditempatkan pada Desil 2 atau Desil 3 meskipun pendapatannya sama.

2. Kualitas Hunian dan Kepemilikan Aset

Inilah yang sering memunculkan “plot twist” pada program bantuan bedah rumah.

Seorang buruh harian mungkin memiliki penghasilan Rp2,5 juta per bulan sehingga secara statistik tidak lagi tergolong miskin.

Namun, jika ia tinggal di rumah yang tidak layak huni, atap bocor, dinding lapuk, atau tidak memiliki sanitasi yang memadai, sistem akan menganggap rumah tangga tersebut masih rentan.

Kondisi fisik rumah menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian kesejahteraan.

Karena itu, tidak mengherankan apabila keluarga tersebut tetap masuk desil bawah dan menjadi prioritas program BSPS.

3. Kerentanan Pekerjaan Sektor Informal

Sistem desil juga memperhatikan kestabilan sumber pendapatan.

Seorang pekerja dengan gaji tetap Rp2 juta per bulan bisa dinilai lebih aman dibandingkan seorang petani penggarap atau buruh bangunan yang bulan ini memperoleh Rp3,5 juta, tetapi belum tentu memiliki penghasilan pada bulan berikutnya.

Pendapatan yang tidak menentu dinilai lebih rentan terhadap guncangan ekonomi.

Karena itulah, banyak pekerja sektor informal tetap berada di kelompok desil bawah meskipun pada waktu tertentu penghasilannya terlihat cukup besar.

Sistem Ini Dibuat untuk Membaca Kerentanan

Melalui artikel serial kedua ini, JatiNetwork.Com ingin meluruskan cara pandang masyarakat.

Kelompok Desil 1 hingga Desil 4 tidak hanya dirancang untuk memotret siapa yang hari ini miskin atau kelaparan, tetapi juga untuk mengidentifikasi siapa saja yang paling rentan jatuh miskin ketika menghadapi guncangan ekonomi, seperti inflasi, sakit, kehilangan pekerjaan, atau gagal panen.

Karena itu, jika Anda melihat ada tetangga yang secara pendapatan terlihat cukup, tetapi rumahnya mendapat bantuan perbaikan atau anaknya menerima beasiswa, belum tentu ada unsur pilih kasih.

Bisa jadi, sistem DTSEN membaca bahwa keluarga tersebut memiliki kerentanan multidimensi yang tinggi sehingga layak diprioritaskan masuk dalam kelompok penerima bantuan.

Lalu, jika data desil ini dirancang seobjektif itu menggunakan sistem terpusat, dari mana sebenarnya data mentahnya berasal? Siapa yang datang ke rumah warga untuk melakukan pendataan? Dan benarkah hasilnya bisa “dititipkan” melalui jalur belakang?

Kita akan membongkar dapur pendataan nasional tersebut pada Artikel Serial ke-3 besok, hanya di JatiNetwork.Com. (*)

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING