Ringkasan Berita:
- Mahkota Binokasih bukan sekadar benda pusaka, tetapi simbol nilai kehidupan adiluhung Sunda.
- Filosofi Binokasih mengajarkan kasih sayang, gotong royong, hingga kebijaksanaan dalam kehidupan.
- Kirab Mahkota Binokasih menjadi upaya menghidupkan kembali warisan budaya Sunda kepada generasi muda.
JatiNetwork.Com – Kirab Mahkota Binokasih yang berlangsung di Kabupaten Sumedang tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga membuka kembali pemahaman masyarakat terhadap filosofi mendalam warisan Kerajaan Sunda.
Mahkota Binokasih yang diarak dalam Kirab Budaya Tatar Sunda ternyata menyimpan makna kehidupan adiluhung yang diwariskan turun-temurun dari leluhur Sunda.
Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Luky Djohari Soemawilaya menjelaskan, Mahkota Binokasih bukan sekadar mahkota emas peninggalan sejarah, melainkan simbol nilai kehidupan yang penuh makna.
Mahkota tersebut memiliki nama lengkap Binokasih Sanghyang Pake.
Menurut Luky, kata Binokasih bermakna kasih sayang, sementara Sanghyang Pake berarti digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, filosofi nama tersebut mengandung pesan bahwa kasih sayang harus menjadi dasar dalam setiap tindakan manusia.
“Kasih sayang harus dijadikan sumber tindakan karena dari kasih sayang melahirkan nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, adil dan bijaksana,” ujar Luky.
Tak hanya dari segi nama, filosofi mendalam juga tersimpan dalam bentuk Mahkota Binokasih itu sendiri.
Mahkota tersebut memiliki tiga susunan yang merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh.
Konsep tersebut mengandung makna saling berbagi ilmu, saling menyayangi, dan saling membimbing dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, ornamen bunga wijaya kusuma dan burung julang pada mahkota juga memiliki simbol kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan niat dalam menjalani kehidupan.
“Filosofi yang terkandung dalam mahkota ini menyimpan pesan bagi kita yang hidup,” katanya.
Melalui Kirab Mahkota Binokasih, nilai-nilai luhur Sunda tersebut diharapkan dapat kembali dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman modern.
Kirab budaya itu pun menjadi lebih dari sekadar seremoni, melainkan upaya menghidupkan kembali identitas dan filosofi kehidupan masyarakat Sunda yang sarat makna.***











