Dedi Mulyadi Siapkan Sumedang Jadi Pusat Budaya Sunda, Kota Akan Diubah Bernuansa Khas Tatar Sunda

Kereta kencana pembawa Mahkota Binokasih saat Kirab Budaya Tatar Sunda di Sumedang yang menjadi simbol penguatan budaya Sunda di Jawa Barat.

Ringkasan Berita:

  • Pemprov Jawa Barat menyiapkan Sumedang sebagai kawasan strategis berbasis budaya Sunda.
  • Dedi Mulyadi ingin wajah kota hingga ruang publik memiliki karakter khas Sunda.
  • Konsep pembangunan budaya akan dipadukan dengan kawasan pendidikan dan identitas lokal.

JatiNetwork.Com – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menyiapkan Kabupaten Sumedang sebagai kawasan strategis berbasis pusat penguatan budaya Sunda. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan identitas dan nilai-nilai tradisi Sunda dalam pembangunan daerah.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Sumedang memiliki posisi penting dalam sejarah serta peradaban Sunda, sehingga pembangunan daerah harus kembali menyatu dengan akar budaya masyarakatnya.

“Sumedang dan seluruh warganya memiliki semangat yang sangat mahal untuk sama-sama membangun daerahnya dengan dasar kebudayaan yang kuat,” ujar Dedi Mulyadi di Sumedang, Minggu (3/5/2026).

Menurutnya, Sumedang bukan sekadar wilayah administratif, melainkan bagian dari peradaban Sunda yang memiliki simbol, filosofi, dan nilai budaya yang kuat hingga saat ini.

Karena itu, Pemprov Jawa Barat mendorong penataan kota berbasis budaya yang terintegrasi dengan kawasan pendidikan dan ruang publik masyarakat.

Konsep pembangunan tersebut nantinya akan menyentuh berbagai elemen kota, mulai dari jalan utama, ruang publik, gapura, penerangan jalan, hingga tata kios agar memiliki karakter khas Sunda yang sederhana, tertib, namun tetap sarat makna budaya.

“Jalan, ruang publik, sampai detail kota harus punya rasa Sunda. Bukan hanya indah, tapi juga mengingatkan pada asal-usul,” katanya.

Tak hanya aspek visual kota, konsep tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kawasan pendidikan di Sumedang agar generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kedekatan dengan budaya lokal.

Dedi menyebut Kirab Mahkota Binokasih yang digelar pada Sabtu (2/5/2026) menjadi simbol perjalanan panjang peradaban Sunda menuju masa depan yang lebih kuat.

Namun demikian, ia menegaskan pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni semata, melainkan harus diwujudkan melalui langkah nyata dalam pembangunan daerah.

“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi perjalanan untuk membangun masa depan. Sumedang harus menjadi contoh bagaimana budaya menjadi dasar pembangunan,” tegasnya.

Dengan semangat gotong royong, Dedi berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama membangun Sumedang sebagai pusat budaya Sunda yang modern namun tetap menjaga jati diri leluhur.

“Dengan kebersamaan dan saling mendukung, kita bisa membangun kampung dan kota yang lebih maju tetapi tidak kehilangan identitasnya,” pungkasnya.***

📡
🎙️
ON AIR
🔊
Radio Jati Network ● LIVE STREAMING