Oleh: Rauf Nuryama
Ringkasan 3 Poin
- Selama 66 hari, Rauf Nuryama mendampingi sang ibu keluar-masuk rumah sakit hingga lima kali akibat infeksi yang terus memburuk.
- Di tengah tekanan batin, sebuah pertanyaan yang terus diulang tenaga medis memunculkan jawaban satir yang mencairkan suasana.
- Di balik humor singkat itu, kondisi sang ibu semakin kritis hingga harus dirujuk ke Bandung untuk menjalani penanganan bedah vaskular.
JatiNetwork.Com – Menemani orang tua melewati masa-masa kritis di rumah sakit bukan hanya menguras tenaga. Perjalanan itu juga menguji kesabaran, emosi, dan keteguhan hati hingga batas yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Selama 66 hari, rumah sakit seolah menjadi rumah kedua bagi keluarga kami. Dalam rentang waktu itu, Mimih harus keluar-masuk ruang perawatan hingga lima kali. Setiap sirene ambulans yang membawa kami dari Sumedang menuju Bandung selalu menghadirkan kecemasan baru.
Kami sempat berharap operasi pertama yang mengangkat ibu jari kaki kiri Mimih menjadi awal pemulihan. Namun harapan itu tidak bertahan lama.
Hasil pemeriksaan menunjukkan operasi tersebut belum berhasil menghentikan infeksi. Bahkan, kadar infeksi dalam darah Mimih justru melonjak hingga mencapai sekitar 30 ribu, angka yang sangat mengkhawatirkan bagi seorang lansia yang hampir berusia 83 tahun.
Di tengah situasi yang dipenuhi aroma obat-obatan dan suara alat medis, saya juga menghadapi rutinitas lain yang terasa melelahkan.
Setiap pergantian dokter, perawat, ataupun mahasiswa koas yang bertugas, pertanyaan yang sama hampir selalu kembali terdengar.
“Pak, ibunya punya gula?”
Awalnya saya menjawab dengan sabar.
Namun ketika pertanyaan yang sama diulang berkali-kali setiap hari, sementara saya sendiri hampir tidak pernah tidur, kesabaran itu perlahan mulai menipis.
Hingga suatu siang, seorang petugas kembali bertanya dengan kalimat yang sama.
“Pak, maaf… Ibunya punya gula?”
Saya menatapnya sebentar, lalu menjawab dengan wajah datar.
“Ada, Sus… di dapur. Enggak tahu sisa beberapa kilo. Mau saya ambilkan?”
Petugas itu sempat terdiam.
Beberapa detik kemudian ia tersenyum kecil setelah menyadari bahwa jawaban saya hanyalah sindiran yang lahir dari kelelahan.
Suasana yang semula tegang pun sedikit mencair.
Setelah itu saya kembali menjelaskan dengan tenang bahwa sejak awal pemeriksaan, dari klinik hingga rumah sakit, hasil laboratorium selalu menunjukkan Mimih tidak menderita diabetes. Kadar gula darahnya normal.
Infeksi yang menyerang kaki beliau bukan disebabkan oleh penyakit gula, melainkan persoalan medis lain yang jauh lebih kompleks.
Namun di balik percakapan singkat itu, kenyataan yang kami hadapi jauh lebih menyakitkan.
Rasa nyeri yang dialami Mimih setelah operasi pertama benar-benar sulit digambarkan.
Beliau terus merintih, menangis, bahkan berteriak menahan sakit. Obat-obatan pereda nyeri biasa tidak lagi mampu mengurangi penderitaannya.
Melihat kondisi tersebut, tim dokter akhirnya mengambil langkah yang lebih agresif.
Mimih diberikan obat penghilang rasa sakit dengan kandungan morfin, analgesik yang digunakan untuk mengendalikan nyeri berat ketika terapi biasa sudah tidak lagi efektif.
Efeknya bekerja sangat cepat.
Beberapa saat setelah obat diberikan, Mimih langsung tertidur lelap.
Namun ketika terbangun, muncul perubahan perilaku yang cukup mencolok.
Beliau tampak kebingungan, tatapannya kosong, lalu mendadak memiliki selera makan yang sangat besar. Setelah makan dengan lahap, efek obat kembali membawanya tertidur.
Pola itu terus berulang selama masa perawatan.
Saya hanya bisa berdiri di samping tempat tidurnya, menyaksikan tubuh yang dahulu begitu kuat kini berjuang melawan rasa sakit yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Keadaan semakin memburuk.
Kaki kiri Mimih yang sebelumnya hanya kehilangan ibu jari mulai membengkak. Warnanya perlahan berubah menjadi keunguan, lalu menghitam akibat jaringan yang tidak lagi mendapat aliran darah dengan baik.
Infeksi terus menjalar.
Melihat perkembangan tersebut, tim medis di RSUD Sumedang akhirnya menyampaikan bahwa penanganan lebih lanjut membutuhkan fasilitas dan dokter dengan kompetensi yang lebih khusus.
Malam itu juga, surat rujukan diterbitkan.
Mimih harus segera dibawa ke Rumah Sakit Immanuel Bandung untuk mendapatkan penanganan dari dokter spesialis bedah vaskular.
Hari keberangkatan pun tiba.
Saya mengemudikan mobil sendiri menuju Bandung.
Mimih berbaring di kursi tengah dengan tubuh yang semakin lemah, sementara sepanjang perjalanan saya hanya mampu berdoa dalam diam.
Saya belum mengetahui bahwa di kota itulah kami akan menghadapi keputusan medis yang jauh lebih berat—sebuah ujian yang kembali mengguncang hati kami sebagai keluarga.
(Bersambung)



