Ringkasan 3 Poin:
- Di puncak karier, seorang anak memilih meninggalkan seluruh jabatan demi merawat ibunya yang sedang sakit.
- Keputusan besar itu diambil pada 4 April 2026 sebagai bentuk bakti yang dianggap lebih mulia daripada jabatan apa pun.
- Kisah ini menjadi pengingat bahwa karier bisa digantikan, tetapi waktu bersama orang tua tidak akan pernah kembali.
JatiNetwork.Com – Dunia modern sering mengajarkan bahwa kesuksesan seorang pria diukur dari jabatan, pengaruh, serta padatnya agenda yang memenuhi kalender kerja. Semakin tinggi posisi yang diraih, semakin besar pula penghargaan yang diberikan lingkungan sekitar.
Saya pernah berada di titik itu. Hari-hari dipenuhi rapat, keputusan strategis, tanda tangan dokumen penting, hingga memimpin berbagai forum pembangunan di Kabupaten Sumedang. Dari luar, hidup saya tampak sedang berada di puncak karier.
Namun kehidupan selalu memiliki cara untuk mengingatkan manusia tentang prioritas yang sesungguhnya. Di tengah segala kesibukan, Tuhan memanggil saya pulang, bukan untuk menerima jabatan baru, melainkan untuk kembali menjadi seorang anak.
Semua pergolakan batin itu mencapai titik puncaknya pada 4 April 2026. Hari yang tidak akan pernah terhapus dari perjalanan hidup saya. Pada hari itulah saya memutuskan mundur dan menonaktifkan diri dari seluruh jabatan yang selama ini menjadi bagian besar dalam kehidupan profesional saya.
Keputusan tersebut bagi sebagian orang mungkin terdengar tidak masuk akal. Ada yang menyebutnya terlalu berani, bahkan nekat. Namun bagi saya, keputusan itu justru lahir setelah melalui pertimbangan paling rasional dalam hidup.
Saat itu saya menjabat sebagai Direktur Utama PT Mitra Ritel Distribusi (Mr D.). Tanggung jawab perusahaan begitu besar dan menuntut kehadiran penuh setiap hari. Di perusahaan tersebut tidak tersedia mekanisme Pelaksana Tugas (Plt) yang dapat menggantikan direktur sewaktu-waktu.
Saya menyadari, apabila tetap mempertahankan jabatan sambil membagi fokus untuk merawat ibu, maka tidak ada satu pun amanah yang dapat saya jalankan secara maksimal. Perusahaan akan dirugikan, sementara bakti kepada orang tua pun menjadi setengah hati.
Tidak lama kemudian, saya juga memutuskan mengakhiri pengabdian sebagai Direktur Radio eRKS FM Kabupaten Sumedang. Walaupun keputusan mundur telah saya ambil sejak awal April, proses administrasi membuat surat pengunduran diri baru resmi ditandatangani pada 27 April 2026.
Ada ironi yang indah dalam tanggal tersebut. Tepat setahun sebelumnya, 28 April 2025, saya pertama kali menginjakkan kaki sebagai direktur di radio kebanggaan masyarakat Sumedang itu. Seolah Allah telah menetapkan masa pengabdian saya selama satu tahun, sebelum akhirnya meminta saya pulang menjalankan tugas yang jauh lebih mulia.
Keputusan itu tidak berhenti pada dua jabatan direktur. Saya juga memilih menonaktifkan diri dari berbagai organisasi yang selama ini menjadi ruang pengabdian masyarakat. Jabatan sebagai Sekretaris Umum Dewan Kebudayaan Sumedang, Wakil Ketua KADIN Sumedang, serta Ketua Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Sumedang saya lepaskan satu per satu, disusul berbagai amanah lain yang selama ini saya emban.
Malam sebelum seluruh surat pengunduran diri diserahkan, saya berdiri lama di depan cermin. Ada ego yang merasa berat meninggalkan panggung yang dibangun melalui kerja keras selama bertahun-tahun. Namun di balik semua itu, wajah Mimih terus hadir dalam pikiran saya.
Mimih sudah menua. Penyakit mulai menggerogoti tubuhnya, sementara usia terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Dalam hati saya hanya ada satu kalimat yang terus berulang.
“Fokus saya sekarang hanya Ibu. Dan itu sudah menjadi niat mati saya.”
Kalimat sederhana itu menjadi jawaban atas seluruh keraguan. Sebab saya memahami bahwa kehilangan seorang direktur bukanlah akhir bagi sebuah perusahaan. Pemegang saham dapat menunjuk pengganti. Organisasi pun dapat memilih ketua baru melalui mekanisme musyawarah.
Namun seorang ibu tidak pernah memiliki pengganti. Waktu yang hilang bersamanya tidak dapat dibeli kembali dengan jabatan, kekuasaan, ataupun kekayaan sebanyak apa pun.
Sejak 4 April 2026, saya resmi tinggal di rumah orang tua. Meja kerja yang sebelumnya dipenuhi dokumen dan agenda rapat saya tinggalkan. Kini, ruang pengabdian saya berpindah ke samping tempat tidur Mimih.
Saya tidak pernah tahu seberapa panjang perjalanan ini. Saya tidak tahu berapa kali ambulans akan membawa kami menuju rumah sakit di Sumedang dan di Bandung, atau berapa banyak malam yang harus dilalui tanpa tidur. Yang saya yakini hanya satu, inilah amanah terbesar yang Allah titipkan kepada seorang anak laki-laki bernama Ujang.
Sejak hari itu, seluruh tepuk tangan dunia saya tinggalkan di luar pagar rumah. Di dalam rumah sederhana ini, panggung pengabdian saya hanya seluas tempat tidur Mimih. Penontonnya bukan lagi manusia, melainkan Allah Yang Maha Mengetahui dan para malaikat yang mencatat setiap langkah bakti seorang anak kepada ibunya. Ini adalah Tulisan Pertama, untuk judul besar: 66 Hari Bersama Mimih.***








