JatiNetwork.Com – Berbicara tentang Sumedang tak akan lengkap tanpa menyinggung denyut budayanya yang masih hidup hingga hari ini. Di tengah arus modernisasi, masyarakat Sumedang justru semakin sadar akan pentingnya menjaga identitas lokal sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.
Salah satu ikon budaya yang paling dikenal adalah Kuda Renggong. Kesenian ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol jati diri masyarakat Sumedang. Kuda-kuda yang telah dilatih khusus menari mengikuti irama kendang dan terompet ini biasanya tampil dalam acara khitanan hingga penyambutan tamu kehormatan.
Kuda Renggong menjadi bukti sinkretisme budaya yang unik, memadukan seni, spiritualitas, dan kebersamaan. Setiap gerakannya seolah menceritakan kisah panjang tentang hubungan manusia dengan alam dan tradisi.
Selain itu, Sumedang juga memiliki kekayaan musik tradisional bernama Tarawangsa. Kesenian khas dari Kecamatan Rancakalong ini dikenal dengan alunan nadanya yang magis dan sarat makna. Tarawangsa kerap dimainkan dalam upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen.
Masyarakat Rancakalong sendiri dikenal sangat teguh memegang adat istiadat. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Ngalaksa, ritual membuat laksa sebagai simbol rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkah kehidupan.
Nilai budaya Sumedang juga tercermin dari karakter warganya. Prinsip soméah atau keramahan masih menjadi pegangan hidup, membuat siapa pun yang berkunjung merasa disambut seperti keluarga sendiri.
Pemerintah daerah pun kini semakin serius mengemas kekayaan budaya ini melalui berbagai agenda, salah satunya Sumedang Ethno Festival. Ajang ini menjadi ruang bagi para seniman lokal untuk menampilkan karya mereka ke panggung yang lebih luas.
Tak hanya itu, pelestarian budaya Sumedang juga telah merambah dunia digital. Banyak anak muda yang aktif mendokumentasikan tradisi lokal melalui konten video pendek, menjadikan budaya tetap relevan di mata generasi Z.
Warisan Kerajaan Sumedang Larang pun masih terjaga dengan baik. Manuskrip kuno dan benda-benda bersejarah disimpan sebagai sumber edukasi agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Bahkan dalam urusan kuliner, budaya Sumedang tetap terasa kuat. Cara menyajikan tahu Sumedang dengan cengek dan lontong dalam anyaman bambu bukan sekadar soal rasa, tetapi juga bagian dari estetika tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Harmoni antara kemajuan zaman dan kelestarian adat inilah yang menjadikan Sumedang memiliki “jiwa” yang kuat—sebuah karakter yang tak mudah ditemukan di daerah lain.***
